Selamatkan Pendidikan Anak Jalanan Bersama Terminal Hujan
Info.Zaman,18/09/2016.Banyak anak-anak di sekitar kampung yang mengalami beberapa masalah pendidikan, seperti kesulitan membaca, berhitung, kebiasaan malas belajar, dan yang lebih mengerikan lagi, dikarenakan tempat tinggal mereka tepat di belakang terminal Baranangsiang, ancaman-ancaman seperti turun ke jalan untuk menjadi pengamen, tawuran, bahkan drop out dari sekolah cukup tinggi.Berdasarkan hal tersebut, maka Anggun bersama-sama kedua temannya, yaitu Sela dan Mario bekerja sama dengan umi untuk menyusun sebuah kurikulum dan “rumah” bimbingan bagi adik-adik yang tinggal di kampung Kebon Jukut, sepanjang bantaran sungai Ciliwung. Awalnya, dilakukanlah asesmen mengenai kebutuhan pendidikan adik-adik, ternyata kemampuan baca tulis hitung adalah hal yang menjadi prioritas untuk dilatihkan segera. Selain itu, keberadaan Umi Awan sebagai sosok yang dihormati oleh masyarakat Kebon Jukut juga sangat memudahkan kami memasuki kawasan tersebut.
Akhirnya, disepakatilah bahwa “sekolah alam” tersebut diberi nama Komunitas
Terminal Hujan. Dengan mengajak lebih banyak relawan, yang awalnya
terdiri dari sahabat-sahabat Anggun, Mario, dan Sela, Terminal Hujan
sedikit demi sedikit berhasil mengumpulkan lebih banyak adik-adik. Dari
segi jumlah relawan pun meningkat, banyak relawan-relawan yang berasal
dari Jakarta Timur hingga Cikarang turut serta mengajar setiap hari Minggu siang.
Dari
semula adik-adik yang mengikuti kegiatan Terminal Hujan setiap Minggu
berjumlah 30-40 orang, saat ini meningkat menjadi 80 orang. Awalnya,
setiap kegiatan belajar akan dimulai, para relawan harus menjemput
adik-adik satu persatu ke setiap rumah mereka. Namun, saat ini sebelum
acara belajar dimulai, adik-adik sudah stand by di halaman kantor kelurahan Baranangsiang, tempat kegiatan belajar mengajar kami dilaksanakan.
Ketiadaan tempat untuk berteduh menyebabkan kegiatan belajar mengajar harus berpindah-pindah dan belajar di alam
terbuka, seperti di lapangan, trotoar, halaman kantor kelurahan, dll.
Oleh karena itu, komunitas ini dinamakan Terminal Hujan, karena terletak
di belakang Terminal Baranangsiang dan jika hujan datang, kami harus
bubar.
Setelah 2
tahun perjalanannya, Terminal Hujan tidak hanya memfokuskan perhatian
pada pendidikan adik-adik, namun juga melebarkan sayap ke pemberdayaan
ekonomi untuk ibu-ibu, dengan cara membuat pelatihan telur asin setiap
minggu dan membudayakan menabung di setiap minggunya. Hal ini dilakukan
dengan tujuan melatih ibu-ibu menyusun keuangan rumah tangga yang lebih
baik da
membantu
perekonomian mereka. Hingga saat ini, setiap minggu ibu-ibu kampung
Kebon Jukut berhasil memproduksi 300-400 butir telur asin yang mereka
jual sendiri.
Ayo berkontribusi untuk ikut memajukan pendidikan Indonesia bersama Terminal Hujan, klik di sini!
