Memperbanyak Tayangan Edutainment untuk Anak
Ilustrasi
Oleh:
Drs. H. Muhammad Gazali, M.Pd
Pemerhati masalah publik
Kepala SMAN 10 Banjarmasin
Sejatinya, tayangan yang baik dan mencerdaskan sudah seharusnya menjadi tanggung jawab semua pihak terutama orangtua, KPI, dan stasiun televisi (baca: TV). Apalagi, media televisi dianggap sebagai media paling efektif dengan jangkauannya luas, murah, dan dikonsumsi 94 persen penduduk di Indonesia. Kemudian, jika menilik fungsi media televisi berdasar UU Nomor 32 tahun 2002, maka terjadi keseimbangan siaran untuk pendidikan, informasi, perekat dan kontrol sosial, hiburan yang sehat, serta memiliki fungsi ekonomi dan budaya. Namun ironisnya, orang Indonesia lebih cenderung menikmati televisi untuk hiburan semata tanpa filter. Akumulasi tayangan hiburan televisi cenderung membentuk perilaku penonton yang lebih suka
hiburan, dibandingkan perilaku terdidik.
Tak Sekadar Rating
Sebagai pihak yang menyajikan konten tayangan, televisi yang kreatif harus memberi alternatif tontonan anak yang ramah dan tepat untuk menunjang tumbuh kembang anak. Kemudian, tayangan TV seharusnya disisipi muatan karakter yang baik melalui tokoh-tokoh yang diperankan. Kombinasi antara tayangan yang sehat, ramah, cocok dengan tumbuh kembang anak dan adanya muatan karakter tanpa adanya adegan kekerasan, diharapkan dapat menjadi tontonan edutainment bagi anak, bukan malah program infotainment yang mendapat porsi lebih.
Saat ini, pertumbuhan infotainment diproduksi berbarengan dengan sinetron dan reality show, proses ini menciptakan trend baru yang subur sehingga mengkiaskan, seolah-olah tidak ada lagi hiburan selain program tersebut. Wajar jika industri televisi menciptakan selera pasar dengan dalih inilah selera pasar dan memaksa stasiun televisi mengakui serta mengakumulasi program sejenis, disaat bersamaan menyeimbangkan program lain.
Masalahnya adalah dari sekian banyak tayangan yang disuguhkan tersebut kebanyakan tidak memiliki unsur edukasi, terutama bagi perkembangan psikologis dan pendidikan anak. Variasi program-program televisi yang didalamnya terkandung moral massage (baca: pesan moral), pengembangkan kemampuan berbahasa, kemampuan kognitif, kemampuan motorik, kemampuan bersosialisasi, belajar nilai kehidupan, budaya dan nilai pada anak-anak seharusnya lebih mendapat jatah lebih, daripada program unggulan yang sekedar untuk menaikkan rating.
Sekarang, pertanyaan adalah dapatkah stasiun televisi memberikan porsi untuk tayangan-tayangan yang lebih edukatif namun tetap menghibur serta mengemasnya dalam suatu sajian alternatif guna memberikan sesuatu yang berarti kepada masyarakat serta memaksimalkan fungsi televisi sebagai alat pendidikan bangsa? Bagaimana pula stasiun televisi dalam menjaga rating tayangan tapi tidak lantas menghilangkan aroma pendidikan yang merupakan bagian penting dalam pembentukan sebuah peradaban bangsa. Karenanya, tontonan edutainment yang memasukkan nilai-nilai pendidikan dalam hiburan yang nantinya ditayangkan di televisi haruslah menjadi perhatian serius bagi para pelaku industri pertelevisian Tanah Air.
Misalnya dalam kasus sinetron Anak Jalanan yang digandrungi hampir seluruh lapisan masyarakat, khususnya kawula muda. Pesan moral yang ingin disampaikan sebenarnya mulia, jika melihat sosok Boy, yang notebene anak motor (jalanan) tapi tetap santun dalam sikap dan perbuatan, berprestasi di bidang akademik, tidak berkelahi kalau tidak terpaksa, serta menjadi sosok yang taat ibadah. Namun, masalahnya adalah manakala pesan utuh dari sinetron tersebut dimaknai bagian per bagian, dan kecenderungannya, anak muda yang menonton tayangan ini, justru meniru, mengambil adegan-adegan yang tidak pantas, suka track-trackan, suka berkelahi, suka nongkrong-nongkrong yang ada botol-botol minuman keras. Selain pesan moral yang gagal dicerna, masalah jam tayang yang bertumbukan dengan jam belajar anak, sehingga memaksa anak untuk lebih memilih menonton si Boy daripada belajar. Begitu besar dan cepat dampak negatif yang gagal dimaknai secara utuh, menyebakan masalah serius bagi pertumbuhan dan perkembangan anak akibat tontonan berbau tontonan pornografi, kekerasan, konflik, bahkan kejahatan. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menyebutkan bahwa sampai April 2015 tercatat sebanyak 1.366 kasus NAPZA dan 1.032 kasus cybercrime dan pornografi menimpa anak negeri.
Partisipasi
Beberapa masukan positif dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) kepada KPI terkait usulan program pendidikan dan kebudayaan di televisi dan radio meliputi (1) penayangan program pendidikan yang terencana dan sistematis untuk jenjang Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Umum/ Kejuruan (SMU/K), Perguruan Tinggi dan Pendidikan Guru, (2) televisi diharapkan memberi inspirasi kepada anak dengan lebih banyak menampilkan tayangan anak-anak yang berprestasi dengan cerita latar belakang keberhasilan, prestasi dan sampai ke luar negeri, serta (3) stasiun televisi diharapkan memperbanyak tayangan film-film dokumenter tentang kearifan lokal, keberhasilan keluarga di tempat yang terpencil jauh dari masyarakat sekitar, patut dicermati dan direalisasikan khususnya oleh stasiun televisi dan KPI, yang sedang melaksanakan proses perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran (IPP) sebagaimana termuat dalam UU nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran Pasal 33 ayat (4). Selain itu, KPI harus semakin selektif sejak dini dalam memfilter dan menyetop tayangan-tayangan yang berpotensi menghadirkan ambigu pesan moral.
Selain, sinergi yang dilakukan oleh stasiun televisi dan KPI, dibutuhkan peran sentral orangtua dalam membimbing, menemani, dan mengarahkan anak dalam memilih tayangan televisi, dikarenakan tontonan bagi anak bisa menjadi tuntunan. Sehingga, orang tua harus cerdas dan bijak memilih tontonan yang tepat untuk anak. Hal-hal sepele tetapi bermakna bagi anak tatkala menonton tayangan televisi, yang sering dikesampingkan oleh para orangtua perlu kembali dikoreksi. Menemani dan mengarahkan mana tayangan yang layak dan tepat dengan perkembangan kognitif anak, mengatur jadwal anak menonton televisi serta selektif dalam memilih tayangannya, meminimalisasi durasi menonton televisi karena masih banyak media informasi dan hiburan yang lebih bermanfaat bagi anak, misalnya membaca buku, saling bercerita, maupun kegiatan yang mengasah kreativitas anak, bisa dilakukan orang tua dalam rangka partisipasi aktif menangkal dampak buruk dari tayangan televisi.
Mengharapkan dan menyerukan agar masyarakat mematikan televisinya, tentu bukanlah solusi bijak dalam menanggulangi pengaruh buruk tontonan terhadap generasi penerus. Fungsi kita sebagai bagian darimasyarakat dalam hal ini adalah berpartisipasi sebagai alat control terkait dengan suguhan tayangan televisi. Diperlukan sikap bijak sekaligus antisipasi kritis dalam menyikapi sekian tayangan yang kita dapatkan. Pendampingan terhadap anak dalam sebuah keluarga tidaklah cukup, namun lebih dari itu, pendidikan keluarga yang mengaitkan norma budaya dan agama akan lebih memberi alternatif pemikiran baru bagi anak-anak kita di rumah. Semua membutuhkan hiburan, tak terkecuali anak-anak, remaja, yang notabene adalah generasi pemegang estafet pembangunan bangsa. Namun, tayangan hiburan tanpa adanya nilai pendidikan juga akan berakibat negatif, jika kita tidak mampu memposisikan tayangan hiburan sebagai sesuatu yang mendidik.
