Waspadai Grey Area dalam Pendidikan Karakter Anak
Kamis, 18 Oktober 2016 07:25
TRIBUNJATENG/CETAK Praktisi Pendidikan
TRIBUNJATENG.COM - Gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang “Full Day School”, sekolah sepanjang hari, mendapat respons positif dan apresiasi dari Presiden Jokowi. Sebelum diluncurkan, Pemerintah terlebih dahulu akan mencoba membuat proyek rintisan yang rencananya sekitar 500 sekolah di Jakarta. Walaupun program ini sesungguhnya sudah banyak dilaksanakan oleh sekolah-sekolah swasta dan kalangan terbatas sekolah negeri, namun dikatakan program ini relatif baru.
Melalui “Full Day School” diharapkan banyak kesempatan bisa dilakukan oleh sekolah untuk melakukan pendidikan dan pembinaan karakter pada peserta didik. Selain itu, program tersebut dimaksudkan pula untuk meminimalisasi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di luar jam sekolah. Dalam program ini kegiatan pembelajaran berlangsung hanya dalam lima hari, Senin–Jumat. Dua hari selebihnya, Sabtu dan Minggu, diharapkan anak bisa lebih menikmati kebersamaannya dengan keluarga di rumah.
Kejahatan dan kekerasan pada anak dan perempuan, termasuk kekerasan seksual, dalam beberapa bulan terakhir ini banyak menyita perhatian kita semua. Pelakunya sebagian adalah anak-anak di bawah umur, remaja-remaja usia sekolah. Para orang tua, kalangan pendidik, pemuka agama, tokoh masyarakat dan tentu saja sekolah, harus mewaspadai fenomena ini yang dari waktu ke waktu sudah semakin mengkhawatirkan.Bobot kenakalan remaja kita saat ini sudah setara dengan tindak kriminalitas orang-orang dewasa. Akselerasi kedewasaan anak-anak yang lebih cepat matang dibandingkan usia biologisnya, membutuhkan perhatian dan pembinaan serius oleh semua pihak. Tindak kekerasan seksual yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur, adalah bukti kematangan dini anak yang cenderung melahirkan perilaku menyimpang.
Tumbuh-kembangnya sikap, perilaku dan karakter anak sangat dipengaruhi oleh pola didik orang tua, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Sekolah, sebagai substitusi peran orang tua menjadi tumpuan dan memikul tanggungjawab yang tidak ringan di dalam melaksanakan pembinaan karakter, sikap, dan perilaku anak didik.
Gagasan sekolah sepanjang hari, yang akan digulirkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentu saja membawa angin segar bagi pola pendidikan dan pembinaan karakter terarah serta berkelanjutan bagi anak-anak. Selain itu, program “Full Day School” bisa menjadi katup pengaman untuk mempersempit waktu dan ruang gerak anak-anak di area bebas, ketika berada di luar rumah dan sekolah. Wilayah ini penulis sebut sebagai “Grey Area”, area abu-abu. Suatu area di mana pengawasan sekolah dan orang tua cenderung lemah, bahkan tidak ada sama sekali. Keberanian anak melakukan perbuatan tidak baik, berperilaku menyimpang serta melakukan tindak kejahatan banyak muncul dan terjadi di area ini.
TRIBUNJATENG/CETAK Praktisi Pendidikan
TRIBUNJATENG.COM - Gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang “Full Day School”, sekolah sepanjang hari, mendapat respons positif dan apresiasi dari Presiden Jokowi. Sebelum diluncurkan, Pemerintah terlebih dahulu akan mencoba membuat proyek rintisan yang rencananya sekitar 500 sekolah di Jakarta. Walaupun program ini sesungguhnya sudah banyak dilaksanakan oleh sekolah-sekolah swasta dan kalangan terbatas sekolah negeri, namun dikatakan program ini relatif baru.
Melalui “Full Day School” diharapkan banyak kesempatan bisa dilakukan oleh sekolah untuk melakukan pendidikan dan pembinaan karakter pada peserta didik. Selain itu, program tersebut dimaksudkan pula untuk meminimalisasi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di luar jam sekolah. Dalam program ini kegiatan pembelajaran berlangsung hanya dalam lima hari, Senin–Jumat. Dua hari selebihnya, Sabtu dan Minggu, diharapkan anak bisa lebih menikmati kebersamaannya dengan keluarga di rumah.
Kejahatan dan kekerasan pada anak dan perempuan, termasuk kekerasan seksual, dalam beberapa bulan terakhir ini banyak menyita perhatian kita semua. Pelakunya sebagian adalah anak-anak di bawah umur, remaja-remaja usia sekolah. Para orang tua, kalangan pendidik, pemuka agama, tokoh masyarakat dan tentu saja sekolah, harus mewaspadai fenomena ini yang dari waktu ke waktu sudah semakin mengkhawatirkan.Bobot kenakalan remaja kita saat ini sudah setara dengan tindak kriminalitas orang-orang dewasa. Akselerasi kedewasaan anak-anak yang lebih cepat matang dibandingkan usia biologisnya, membutuhkan perhatian dan pembinaan serius oleh semua pihak. Tindak kekerasan seksual yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur, adalah bukti kematangan dini anak yang cenderung melahirkan perilaku menyimpang.
Tumbuh-kembangnya sikap, perilaku dan karakter anak sangat dipengaruhi oleh pola didik orang tua, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Sekolah, sebagai substitusi peran orang tua menjadi tumpuan dan memikul tanggungjawab yang tidak ringan di dalam melaksanakan pembinaan karakter, sikap, dan perilaku anak didik.
Gagasan sekolah sepanjang hari, yang akan digulirkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentu saja membawa angin segar bagi pola pendidikan dan pembinaan karakter terarah serta berkelanjutan bagi anak-anak. Selain itu, program “Full Day School” bisa menjadi katup pengaman untuk mempersempit waktu dan ruang gerak anak-anak di area bebas, ketika berada di luar rumah dan sekolah. Wilayah ini penulis sebut sebagai “Grey Area”, area abu-abu. Suatu area di mana pengawasan sekolah dan orang tua cenderung lemah, bahkan tidak ada sama sekali. Keberanian anak melakukan perbuatan tidak baik, berperilaku menyimpang serta melakukan tindak kejahatan banyak muncul dan terjadi di area ini.
Fenomena kenakalan dan tindakan kejahatan anak, dengan berbagai variannya sejatinya sudah lama terjadi, namun nampaknya belum pernah ditelusuri serius akar permasalahannya. Sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal yang selama ini mendapat amanah dan kepercayaan masyarakat, nampaknya belum mampu mengambil peran besar dalam menuntaskan masalah yang satu ini, yang dewasa ini sudah demikian berkembang.
Walaupun sudah banyak sekolah (terutama negeri) yang menggunakan kurikulum di mana proses pendidikan lebih mengedepankan pada pembinaan sikap dan perilaku anak (sikap spiritual dan sosial), namun tidak serta merta persoalan kenakalan tertanggulangi. Masalah keterbatasan waktu dan kesempatan tatap muka di sekolah, menjadi salah salah kendala sehingga pembinaan karakter dan pengawasan sikap dan perilaku anak didik tidak bisa dilakukan secara optimal. Pembinaan karakter tentunya tak bisa dibatasi oleh waktu dan kesempatan.
Kendatipun “Full Day School” akan dirancang sedemikian rupa untuk menyiasati agar waktu kebersamaan anak dan orang tua bisa lebih lama. Namun demikian, kenakalan dan tindak kejahatan oleh anak-anak di bawah umur, tetap saja terjadi. Pendidikan karakter yang telah ditanamkan oleh orang tua dan sekolah sejak dini, akan mengalami tantangan dan ujian berat di grey area.
Nilai-nilai kebajikan, kejujuran, kesopanan, kesantunan, etika, akhlak dan budi pekerti luhur, bisa lenyap seketika manakala anak sudah berada di area bebas tersebut. Sebuah wilayah tak bertuan, di mana banyak kepentingan yang bersifat agitatif dan provokatif akan mempengaruhi sikap dan perilaku anak. Dalam banyak kasus, ditemukan fakta bahwa anak-anak yang tadinya santun dan berperilaku baik di rumah, bisa menjadi liar dan tak terkendali ketika berada di luar. Pergaulan dan seks bebas, penyalahgunaan narkoba, miras, tindak kekerasan seksual, radikalisme, banyak terjadi di area abu-abu.
Oleh sebab itu, diperlukan sinergi bersama antara orang tua dan sekolah untuk menjaga agar grey area tidak menjadi “missing link”, mata rantai terputus pada rangkaian proses pendidikan dan pembinaan karakter anak sepanjang waktu. Grey Area menjadi wilayah yang sangat rawan dan menjadi momen hadirnya niat dan perbuatan tidak baik oleh anak, dan dilakukan terhadap anak yang lain, yang berpotensi melanggar hukum, norma agama, susila maupun ketertiban umum. Di area ini anak merasa bebas dan bisa melakukan apa saja atas inisiatif sendiri, atau karena pengaruh orang lain.
Pembinaan karakter dan akhlak mulia, bukan semata tugas Pemerintah. Orang tua dan lingkungan keluarga adalah garda terdepan, penjaga moral, karakter dan budi pekerti anak. Contoh, keteladanan dan pengawasan orang tua lebih dari segalanya. Kenakalan anak yang saat ini yang sudah cenderung kriminal harus segera ditanggulangi. Ancaman dekadensi moral pun sudah di depan mata, dan ini mencemaskan kita semua. Anak-anak adalah pewaris negerI ini. Kewajiban kita semua untuk menjaga, merawat serta melindunginya.
Kendatipun “Full Day School” akan dirancang sedemikian rupa untuk menyiasati agar waktu kebersamaan anak dan orang tua bisa lebih lama. Namun demikian, kenakalan dan tindak kejahatan oleh anak-anak di bawah umur, tetap saja terjadi. Pendidikan karakter yang telah ditanamkan oleh orang tua dan sekolah sejak dini, akan mengalami tantangan dan ujian berat di grey area.
Nilai-nilai kebajikan, kejujuran, kesopanan, kesantunan, etika, akhlak dan budi pekerti luhur, bisa lenyap seketika manakala anak sudah berada di area bebas tersebut. Sebuah wilayah tak bertuan, di mana banyak kepentingan yang bersifat agitatif dan provokatif akan mempengaruhi sikap dan perilaku anak. Dalam banyak kasus, ditemukan fakta bahwa anak-anak yang tadinya santun dan berperilaku baik di rumah, bisa menjadi liar dan tak terkendali ketika berada di luar. Pergaulan dan seks bebas, penyalahgunaan narkoba, miras, tindak kekerasan seksual, radikalisme, banyak terjadi di area abu-abu.
Oleh sebab itu, diperlukan sinergi bersama antara orang tua dan sekolah untuk menjaga agar grey area tidak menjadi “missing link”, mata rantai terputus pada rangkaian proses pendidikan dan pembinaan karakter anak sepanjang waktu. Grey Area menjadi wilayah yang sangat rawan dan menjadi momen hadirnya niat dan perbuatan tidak baik oleh anak, dan dilakukan terhadap anak yang lain, yang berpotensi melanggar hukum, norma agama, susila maupun ketertiban umum. Di area ini anak merasa bebas dan bisa melakukan apa saja atas inisiatif sendiri, atau karena pengaruh orang lain.
Pembinaan karakter dan akhlak mulia, bukan semata tugas Pemerintah. Orang tua dan lingkungan keluarga adalah garda terdepan, penjaga moral, karakter dan budi pekerti anak. Contoh, keteladanan dan pengawasan orang tua lebih dari segalanya. Kenakalan anak yang saat ini yang sudah cenderung kriminal harus segera ditanggulangi. Ancaman dekadensi moral pun sudah di depan mata, dan ini mencemaskan kita semua. Anak-anak adalah pewaris negerI ini. Kewajiban kita semua untuk menjaga, merawat serta melindunginya.