Bandar
Lampng, (MINA) – Seorang anak tergantung bagaimana orangtuanya. Demikian
disampaikan Neno Warisman, parenter keluarga muslim dalam acara Seminar
Parenting Nasional bertema “Menjadi Ayah Idola, Bunda Bidadari, Membentuk Anak
Menjadi Bintang, di Gedung Graha Achava Join Raja Basa, Bandar Lampung,
Sabtu, (16/4).
“Begitulah
anak kita. Jika seorang anak diperlakukan dengan sangat patut, maka anak juga
akan memperlakukan orang tua dengan sangat patut. Setiap kali ibu dan ayah
berteriak, maka anak akan berteriak jauh lebih keras dari orangtuanya,”
ujarnya.
Menurutnya,
seseorang yang hebat tidak dilihat dari latar belakangnya yang kaya ataupun
miskin, tetapi bagaimana ia dibesarkan.
“Seseorang
menjadi bintang tidak peduli lantaran ia kaya ataupun miskin, tetapi tergantung
bagaimana ia dibesarkan. Dalam tangan kasih sayang kah atau dalam tangan dan
mata penuh ancaman,” kata Neno.
Lebih
lanjut, Neno mengelompokan orangtua dalam empat kelompok.
Yang
pertama, adalah kelompok orangtua yang bermutu. “Seorang ayah idola adalah
lokomotif keteladanan yang mampu merebut hati anak-anaknya,” ujarnya..
Belum
lengkap jika seorang ayah hanya menempatkan diri sebagai pencari nafkah.
“Bohong
besar jika seorang ayah menempatkan dirinya sebagai pencari nafkah dan mengaku
bahwa dirinya sudah lengkap. Ayah yang tidak dekat dengan anaknya maka anaknya
akan lebih cenderung kepada penyimpangan seksual,” ujarnya.
Kelompok
yang kedua menurut Neno, yakni kelompok orangtua yang berilmu.
“Seorang
ibu harus memiliki EQ dan IQ yang tinggi, knowledgeble, emosi yang konstruktif
serta spiritual yang tangguh dan tidak cengeng,” katanya.
Lebih
lanjut Neno memaparkan kelompok yang Ketiga, yakni orangtua penemu.
“Kita
adalah penemu dari kecerdasan anak kita. Mengetahui apakah anak kita
kinestetik, visual, auditory, musical dan lain sebagainya,” ujarnya.
Untuk
kelompok keempat, Neno menggolongkannya kepada orangtua pemandu di mana masa
penegakkan akidah dan pembentukan karakter kepemimpinan.
“Orangtua
harus bisaa menjadi pemimpin atau pemandu bagi anak-anaknya di usia yang tepat.
Anak di usia 0-2 tahun adalah usia wajib sapih, 3-7 tahun adalah masa
kemandirian, 7-10 tahun itu masa penegakan aqidah dan masa baligh, 10-14 tahun
masa pembentukan dan kepemimpinan, 14-16 tahun pengenalan kapasitas diri,
16-19 menjawab tantangan dan melakukan team work, 19-21 masa pemegang
keputusan,” kata Neno. (L/ism/nia/K08).
